Kamis, 27 Desember 2018

Yushida dan Syamsidar: Jurnal Al-Mumtaz, Volume 7, Nomor 2, Juli-Desember 2018, hal. 85-90


HUBUNGAN DUKUNGAN SUAMI DAN EFEK SAMPING KELUARGA BERENCANA (KB) DENGAN KEJADIAN UNMET NEED KB

Oleh:
Yushida1 Syamsidar2

Dosen Prodi Kebidanan Meulaboh Poltekkes Kemenkes Aceh1
Mahasiswa Prodi Kebidanan Meulaboh Poltekkes Kemenkes Aceh2
Jln. Keperawatan No 25. Suak Ribee, Meulaboh

ABSTRAK
Unmet need adalah persentase wanita yang saat ini tidak menggunakan metode kontrasepsi dan tidak ingin anak lagi atau menunda kelahiran, tetapi tidak menggunakan kontrasepsi jenis apapun.Unmet need akan memberikan dampak kehamilan tidak diinginkan oleh seorang perempuan yang sebenarnya belum atau sudah tidak menginginkan hamil dan kehamilan tidak tepat waktu. Penurunan persentase unmet need akan  memberikan  hasil  yang signifikan  terhadap  angka prevalensi  kontrasepsi. Tujuan penelitian untuk menganalisa faktor determinan berhubungan dengan kejadian unmet need KB pada ibu pasangan usia subur di Gampong Rambong Kecamatan Bubon Kabupaten Aceh Barat. Jenis penelitian  analitik observasional dengan desain studi cross sectional. Populasi penelitian yaitu ibu pasangan usia subur (PUS), berjumlah 34 orang. Pemilihan sampel yang di gunakan total population yaitu semua populasi dijadikan sampel.  Analisa data menggunakan uji chi square. Hasil analisa data menunjukkan bahwa dukungan suami ( p value= 0,106) > 0,05. Artinya tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan kejadian unmet need KB, sedangkan efek samping KB memperoleh nilai P value 0,009 < 0,05 yang artinya memiliki hubungan yang bermakna terhadap kejadian unmet need KB. Diharapkan bidan dapat meningkatkan konseling agar pemahaman akseptor KB tentang efek samping alat kontrasepsi menjadi lebih baik, demikian juga pemahaman pada suami akseptor KB.

Kata Kunci: Dukungan suami, Efek samping, Unmet need KB, Pasangan usia subur


PENDAHULUAN
Keluarga Berencana merupakan usaha untuk mengukur jumlah dan jarak anak yang diinginkan melalui beberapa cara atau alternatif untuk mencegah ataupun menunda kehamilan. Program KB memiliki manfaat yang  meliputi: menurunkan angka pertumbuhan penduduk melalui penurunan  angka kelahiran, meningkatkan kesehatan dan kualitas hidup perempuan dengan membantu mereka mencegah kehamilan yang tidak diinginkan dan aborsi sehingga dapat menurunkan angka kematian ibu, memajukan hak-hak pasangan dan perempuan, sebagai investasi ekonomi karena dapat menghemat pengeluaran pemerintah, swasta, masyarakat untuk upaya pendidikan dan kesehatan reproduksi.5
Unmet need KB merupakan salah satu konsep penting yang dimanfaatkan untuk pengembangan kebijakan KB, serta pelaksanaan dan pemantauan program KB diseluruh dunia. Sasaran unmet need secara nasional adalah sebesar 6,5%. Unmet need akan memberikan dampak kehamilan tidak diinginkan oleh seorang perempuan yang sebenarnya belum atau sudah tidak menginginkan hamil dan kehamilantidak tepat waktu.Penurunan persentase unmet need akan  memberikan  hasil  yang signifikan  terhadap  angkaprevalensi  kontrasepsi.  Salah satu studi  menemukan  bahwa  dengan memberikan  pelayanan  pada kelompok unmet need dapat membantu pasangan untuk mengatur kehamilannya dan meningkatkan sosial ekonominya.Studi lain menunjukkan bahwa dengan menurunkan unmet need dapat mengurangi kematian ibu dananak.3
Tingginya unmet need bukan hanya akan menjadi penyebab  ledakan penduduk (populasi), melainkan juga bisa berpengaruh pada tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia, karena merupakan salah satu faktor penyebab 75%  kematian ibu di Indonesia dan juga di dunia. Wanita usia reproduktif yang tidak menggunakan KB berpeluang besar untuk hamil dan mengalami komplikasi dalam masa kehamilan, persalinan dan nifas. Hal ini dapat disebabkan dari adanya aborsi karena kehamilan yang tidak diinginkan (unwanted pregnancy), jarak hamil terlalu dekat, melahirkan terlalu banyak maupun komplikasi penyakit selama kehamilan, penyulit saat persalinan dan komplikasi masa nifas.3
Berdasarkan Jurnal hasil penelitian Uljanah Khairunnisa,dkk tentang Hubungan Faktor Risiko Kejadian Unmet Need KB (Keluarga Berencana) Di Desa Adiwerna, Kecamatan Adiwerna Kabupaten Tegal Tahun 2016 dimana faktor usia, Jumlah anak hidup,dukungan suami, Dukungan sosial memiliki hubungan dengan kejadian Unmet Need KB, sedangkan tidak memiliki hubungan signifikan terhadap kejadian unmet need KB pengetahuan, efek samping, dan Agama.7
Pasangan usia subur merupakan sasaran dari program KB, dari seluruh PUS tersebut terdapat sebagian yang memutuskan untuk tidak memanfaatkan program tersebut dengan berbagai alasan di antaranya ingin menunda memiliki anak (IAT) atau tidak ingin memiliki anak lagi (TIAL). Kelompok PUS ini disebut sebagai unmet need.  Presentase PUS yang merupakan kelompok unmet need di indonesia sebesar 12,7 %. Dari seluruh PUS yang memutuskan tidak memanfaatkan program KB, sebanyak 6,15% beralasan ingin menunda memiliki anak (IAT), dan sebanyak 6,55% beralasan tidak ingin memiliki anak lagi (TIAL). Total angka unmet need tahun 2015 mengalami penurunan dibandingkan tahun 2014 yang sebesar 14,87%.8
Berdasarkan data Profinsi Aceh tahun 2016 jumlah PUS yang menggunakan kontrasepsi 74.80%, peserta KB baru 16.83%, peserta KB aktif 111.10%, unmet need 14.25%.9
Setelah dilakukan survey di Gampong Rambung Kecamatan Bubon Kabupaten Aceh Barat diperoleh data jumlah PUS sebanyak 44 jiwa, PUS yang ber KB sebanyak 10 jiwa, PUS yang tidak ber KB sebanyak 34 Jiwa.
Mengingat rendahnya keikutsertaan KB pada ibu pasangan usia subur di Gampong Rambong, maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah “Bagaimanakah hubungan dukungan suami dan efek samping KB dengan kejadian unmet need KB pada ibu pasangan usia subur
Tujuan penelitian Untuk menganalisa hubungan dukungan suami dan efek samping KB dengan kejadian unmet need KB pada ibu pasangan usia subur.
Manfaat penelitian ini yaitu Memperoleh kejelasan tentang unmet need KB serta faktor determinan yang mempengaruhinya. Dalam hal ini dapat menjadi masukan bagi pengambil kebijakan kesehatan di puskesmas dan pendidikan agar dapat memberikan informasi  tentang faktor determinan yang mempengaruhi unmet need KB.

TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Keluarga Berencana adalah keinginan untuk memiliki anak sesuai dengan waktu dan jumlah yang diinginkan oleh sebuah keluarga. Keluarga berencana kadang disebut juga penjarakan kelahiran.5
Unmet Need adalah persentase perempuan saat ini yang tidak menggunakan metode kontrasepsi  dan tidak ingin punya anak lagi dan menunda kelahiran, tetapi tidak mengunakan alat kontrasepsi apapun.
Unmet need akan berdampak pada aborsi karena adanya unwanted pregnancy, jarak hamil terlalu dekat melahirkan terlalu banyak maupun komplikasi penyakit selama kehamilan, kesulitan saat persalinan, dan komplikasi masa nifas. Laporan hasil Unmet need sangat penting untuk mendapatkan gambaran pencapaian program KB dan mengetahui keadaan sasaran. Dengan mengetahui proporsi  kelompok tersebut, akan diketahui besarnya sasaran potensial yang masih perlu diajak ber KB.
Dukungan suami sangat diperlukan dalam melaksanakan keluarga berencana.Dukungan suami dapat mempengaruhi perilaku istri apabila suami tidak megizinkan atau mendukung, maka para istri akan mengikuti dan hanya sedikit istri yang berani untuk tetap memasang alat kontrasepsi. Perilaku terbentuk melalui suatu proses tertentu dan berlangsung dalam interaksi manusia dengan lingkungannya.  Dukungan emosional suami terhadap istri dalam keluarga berencana dapat diwujudkan dalam komunikasi yang baik antara   suami dan istri dalam kesehatan reproduksi dan dalam kesehatan ber    KB.13
Responden menyatakan bahwa pada umumnya setiap kontrasepsi yang dipakai menimbulkan efek samping. Sehingga mereka enggan mengunakan kontrasepsi yang akhirnya akan berdampak pada kesehatan mereka.7
Pasangan suami istri yang pada saat ini hidup bersama, Batas umur yang digunakan disini adalah 15 sampai 44 tahun. Hal ini di latar belakangi oleh pemikiran oleh mereka yang berada pada kelompok umur 45-49 tahun, kemungkinan untuk melahirkan lagi  sangat kecil sekali.16
Jenis penelitian studi analitik observasional karena mengamati hubungan antara variabel-variabel penelitian dan pengujian hipotesa, desain studi cross sectional (rancangan potong lintang) .17
Penelitian akan dilaksanakan di Gampong Rambong Kecamatan Bubon Kabupaten Aceh Barat. Penelitian dilaksanakan tanggal  20 Juli - 2 agustus 2018. Populasi adalah ibu pasangan usia subur (PUS) yang tidak ikut KB,berjumlah  34 orang.
Teknik pengambilan sampel adalah total population yaitu semua jumlah populasi dijadikan sampel.

HASIL PENELITIAN
Tabel 4.12  Determinan Faktor Dukungan  
                    Suami dengan Unmet Need KB
Dukungan Suami

Unmet Need KB
Jum lah
       P value


Ya
Tidak Kompeten




N
%
N
%
N
%

   Ada


22
75,0
1
 4,3
23
100

0,106

  Tidak 
   ada

9
95,7
3
25
12

100

Dari tabel 4.1  menunjukkan memperoleh pvalue (0,106) > 0,05, artinya bahwa dukungan suami tidak memiliki  hubungan yang signifikan dengan Unmet need KB.
Tabel 4.2 Determinan Faktor Efek samping   
                 terhadap Unmet Need KB
Efek samping
Unmet Need KB
Jumlah
P value
Ya
Tidak Kompeten
N
%
N
%
n
%

Ada
23
100
0
0
   23
100
0.009

Tidak ada
8
66,7
4
33,3
12
100


Dari tabel 4.2  menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki efek samping dan mengalami unmet need KB sebanyak 23 orang (100%) serta memperoleh p value (0,009) < 0,05.artinya bahwa efek samping KB memiliki  hubungan yang signifikan dengan Unmet need KB.



PEMBAHASAM
Dukungan suami sanggat di perlukan dalam melaksanakan keluarga berencana .dukungan suami dapat mempengaruhi perilaku istri apabila suami tidak megizinkan atau mendukung , maka para istri akan mengikuti dan hanya sedikit istri yang berani untuk tetap memasang alat kontrasepsi perilaku terbentuk melalui suatu proses tertentu dan berlangsung dalam interaksi manusia dengan lingkungan nya. Dukungan emosional suami terhadap istri dalam keluarga berencana dapat di wujudkan dalam komunikasi yang baik antara suami dan istri dalam kesehatan reproduksi dan dalam kesehatan ber KB (Muniroh, 2013).
 Hasil penelitian yang dilakukan di gampong rambung, faktor dukungan suami tidak memiliki kejadian yang signifikan dengan kejadian unmet need KB hasil penelitian sejalan dengan penelitian Astuti (2014) yang menunjukkan bahwa ibu yang unmet need lebih banyak terjadi pada ibu yang mendapat dukungan dengan baik dari suami sebanyak 43 orang (43,79%). Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar suami mendukung istri secara baik, berarti ada respon yang baik dari suami untuk istrinya dalam menggunakan alat atau cara kontrasepsi. Tingginya dukungan suami terhadap istri mengenai unmet need pada penelitian yang dilakukan peneliti disebabkan karena perhatian suami yang begitu besar terhadap istri yang ingin menggunakan alat atau cara kontrasepsi akan tetapi dukungan suami tidak baik mengenai KB tidak menjamin penggunaan KB juga baik.
Responden menyatakan bahwa pada umumnya setiap kontraspsi yang di pakai menimbulkan efek samping. Sehingga mereka enggan mengunakan kontrasepsi yang akhirnya akan berdampak pada kesehatan mereka seperti pusing kepala, gangguan menstruasi, merasa kedinginan serta efek samping lain nya (Uljannah,k 2016).
 Hasil penelitian yang dilakukan di gampong rambung, faktor efek samping memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian unmet need KB.
Hasil penelitian ini berbeda dengan hasil penelitian Khairunnisa Uljannah, dkk (2016) yang menyatakan bahwa tidak ada kejadian yang signifikan efek samping dengan kejadian unmet need KB pada ibu pasangan usia subur (PUS)

KESIMPULAN
Faktor efek samping KB memiliki hubungan yang signifikan terhadap kejadian unmet need KB Sedangkan Faktor dukungan suami tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan unmet need KB karena pada umumnya suami akseptor mendukung KB.



















DAFTAR PUSTAKA

Kurniwati, T. 2014. Buku ajar kependudukan dan pelayanan KB.jakarta.EGC
BKKBN. 2011. Pelayanan kontasepsi. Jakarta BKKBN. 2011, Kebijakan Program Kependudukan, Keluarga Berencana,dan Pembangunan Keluarga dalam Mendukung Keluarga Sehat http://www.depkes.go.id/recources/download/info -terkini /rakerkernas. Gelz-2016 /kepala %20 BKKBN. Pdf di akses tanggal 14 februari 2018
Kemenkes RI. (2013). Situasi Keluarga Berencana di Indonesia. Buletin Jendela 
Data dan Informasi Kesehatan Volume 2, semester 2, 2013.
Sulistyawati,A. 2011. Pelayanan Keluarga Berencana. Jakarta:Selemba Medika
Depkes. RI (2012) Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012.  Jakarta
Jurnal Uljanah Khairunnisak,dkk.2016. Hubungan Faktor Risiko Kejadian Unmet
need KB Didesa Adiwerna Kecamatan Tegal Tahun 2016.http://ejournal-sl.undip.ac.id/index.php/jkm
Kemenkes,RI. (2015). Profil Kesehatan Indonesia  http://www. depkes. go.id/ resources//download/pusdatin/profil-kesehatan-indonesia/profil-kesehatan-indonesia-2015.pdf
Rapat Pengendalian Program, 2016. Capaian Program KB Tahun 2016. Provinsi Aceh
Dinkes Aceh Barat, 2015. Profil Dinas Kesehatan Aceh Barat Tahun 2014,  Meulaboh
Puskesmas Kecamatan Bubon, 2017. Profil Kesehatan Puskesmas Kecamatan BubonTahun 2017. Bubon
Ulsafitri.y. dan fastin,R.N. ( 2015).Faktor  yang berhubungan dengan unmet need KB pada pasangan usia subur ( pus) . stikes yarsih sumbar bukit tinggi
Muniroh, I. D, Luthviatin,N, Istiaji,E. 2013. Dukungan Sosial Suami TerhadapIstri Untuk Menggunakan Alat Kontrasepsi. E-Jurnal Pustaka Kesehatan,Vo;2(no.1)
Notoatmodjo, S dan fastin, RN.  2015. Ilmu Perilaku Kesehatan Jakarta Ramela Cipta
Wahyuni,Y.2015. Pandangan Masyarakat Terhadap Program Keluarga
Berencana Dalam Mewujudkan Keluarga Sejahtera.http://digilib.uinsuka.ac.id/15909/. Diakses tanggal 14 februari 2018
Sariati, S. mulyaningsih, sugihardi 2015 Faktor yang Berhubungan dengan pus
Sastroasmoro, S, Ismael, S, 1995. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis. Binarupa Aksara, Jakarta
Sugiyono, 2012.Metode penelitian kuantitatif, kualitatif dan R&D. Bandung
Notoadmodjo. (2010). Metodelogi penelitian kesehatan. Edisi Revisi. Rineka Cipta:Jakarta
Katulistiwa. (2014). Determinan unmet need KB pada wanita menikah di kecamatan Klabang kabupaten bondowoso. Artikel Ilmiah Hasil  Penelitian Mahasiswa Vol 2, No 2, Hlm. 121-127.
Astuti & Rafifah. (2014). Deskriptif   faktor-faktor yang mempengaruhi wanita  usia Subur (WUS) tidak menggunakan alat kontrasepsi. Jurnal Ilmiah Kebidanan vol. 5 no 2. Hlm 99-108
Duapadang, T. Ismail, Subirman. 2013. Faktor-faktor Yang Berhubungan Dengan Unmet Need KB Pada Pasangan Usia Subur (PUS) Di Wilayah Kerja Puskesmas Temindung Tahun 2013. Skripsi, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Mulawarman, Samarindah.

Idwar dan Magfirah: Jurnal Al-Mumtaz, Volume 7, Nomor 2, Juli-Desember 2018, hal. 79-84


HUBUNGAN ANTARA LAMA PEMAKAIAN KONTRASEPSI SUNTIK DMPA (DEPO MEDROKSI PROGESTERON ASETAT)  DENGAN PERUBAHAN TEKANAN DARAH  PADA IBU ASEPTOR KB DI DESA KARANG ANYAR
KECAMATAN LANGSA BARO KOTA LANGSA

Oleh:
Idwar1 dan Magfirah2

1 Dosen Prodi Keperawatan Langsa Poltekkes Kemenkes Aceh:  idwaredo@gmail.com
 2Dosen Prodi Kebidanan Langsa Poltekkes Kemenkes Aceh: magfirah_mhskia@yahoo.com

ABSTRAK
Salah satu metode kontrasepsi hormonal dengan menggunakan suntik yang paling sering digunakan adalah DMPA. Depo Medroxyprogresterone Asetat (DMPA) berisi depo medroxy progesterone asetat  150 mg dengan daya guna 3 bulan. Mekanisme kerja dari DMPA adalah menekan ovulasi, mengentalkan lendir servik, membuat endometrium kurang baik untuk implantasi dari ovum  yang telah dibuahi dan mempengaruhi kecepatan transpor ovum di dalam tuba fallopi. Efek samping dari kandungan hormon progesteron pada sistem reproduksi adalah servisitis dan pada kondisi umum dapat menimbulkan nafsu makan meningkat, depresi, kelemahan, serta libido menurun sedangkan pada sistem    kardiovaskuler dapat menyebabkan perubahan tekanan darah. Penelitian ini bertujuan melihat Hubungan Antara Lama Pemakaian Kontrasepsi Suntik DMPA (Depo Medroksi Progesteron Asetat)  Dengan Perubahan Tekanan Darah  Pada Ibu Aseptor KB Di Desa Karang Anyar Kecamatan Langsa Baro Kota Langsa. Desain penelitian bersifat analitik dengan rancangan penelitian crosectional. Populasi pada penelitian ini adalah ibu aseptor KB suntik DMPA berjumlah 32 orang. Hasil penelitian menujukan bahwa lama pemakaian suntik DMPA > 2 tahun sebanyak 20 orang (62,5%) yang ≤ 2 tahun sebanyak 12 orang (37,5%). Untuk variable perubahan tekanan darah, yang ada mengalami perubahan sebanyak18 orang (56,3%) dan yang tidak mengalami perubahan sebanyak 14 (43,7%). Setelah dilakukan uji chi-square didapatkan hasil ada hubungan antara lama pemakaian kontrasepsi suntik DMPA terhadap perubahan tekanan darah pada ibu akseptor KB dengan nilai P value 0,017. Disarankan untuk ibu akseptor KB agar tidak menggunakan kontrasepsi untuk jangka waktu yang lama dan dapat di gantikan dengan alat kontrasepsi yang lain, agar tekanan darah ibu tidak meningkat lebih tinggi.

Kata Kunci      : Kontrasepsi Suntik DMPA (Depo Medroksi Progesteron Asetat),
                         Tekanan Darah 

RELATIONSHIP BETWEEN DURATION OF USE OF INJECTABLE DMPA CONTRACEPTION (DEPO MEDROKSI PROGESTERONE ASETAT) WITH CHANGES IN BLOOD PRESSURE ON KB KB RECEPTORS IN KARANG ANYAR VILLAGE, LANGSA BARO DISTRICT, LANGSA CITY

1Ministry of Health Republic of Indonesia Health Polytechnic of Aceh Prodi D-III Nursing Langsa. idwaredo@gmail.com
2Ministry of Health Republic of Indonesia Health Polytechnic of Aceh Prodi D-III Kebidanan Langsa. Email: magfirah_mhskia@yahoo.com

One of the most commonly used hormonal contraceptive methods using injections is DMPA. The Medroxyprogresterone Asetat (DMPA) Depo contains a 150 mg medroxy progesterone acetate depot with a usefulness of 3 months. The mechanism of action of DMPA is suppressing ovulation, thickening the cervical mucus, making the endometrium less good for implantation of the fertilized ovum and affecting the speed of ovum transport in the fallopian tube. Side effects of the hormone progesterone in the reproductive system are cervicitis and in general conditions can increase appetite, depression, weakness, and decreased libido while the cardiovascular system can cause changes in blood pressure. This study aims to look at the relationship between the duration of use of DMPA injection contraception (Depo Medroksi Progesterone Asetat) with changes in blood pressure on mothers of family planning acceptors in Karang Anyar Village, Langsa Baro District, Langsa City. The study design was analytical with a crosectional research design. The population in this study were 32 DMPA injection KB acceptors. The results showed that the duration of use of DMPA injections> 2 years was 20 people (62.5%) who ≤ 2 years were 12 people (37.5%). For variable changes in blood pressure, there were 18 changes (56.3%) and 14 (43.7%). After the chi-square test, it was found that there was a relationship between the duration of DMPA injection contraceptive use to changes in blood pressure in family planning acceptors with a P value of 0.017. It is recommended for mothers of family planning acceptors not to use contraception for a long time and can be replaced with other contraceptives, so that maternal blood pressure does not increase higher.

Keywords: DMPA injection contraception (Depo Medroksi Progesterone Acetate), Blood pressure

PENDAHULUAN
Keluarga Berencana merupakan upaya pelayanan kesehatan preventif yang paling dasar dan utama. Upaya untuk mengoptimalkan manfaat  keluarga berencana bagi kesehatan, pelayanannya harus digabungkan dengan pelayanan kesehatan reproduksi yang telah tersedia yaitu pelayanan kontrasepsi. Kontrasepsi merupakan bagian dari pelayanan kesehatan reproduksi untuk pengaturan kehamilan, dan merupakan hak setiap individu sebagai makhluk seksual1.
Metode kontrasepsi ada 5 macam, yakni metode kontrasepsi sederhana, kontrasepsi hormonal, alat kontrasepsi dalam rahim, metode kontrasepsi mantap, metode kontrasepsi darurat. Metode kontrasepsi sederhana pada dasarnya terbagi menjadi 2 yaitu sederhana tanpa alat dan dengan alat. Metode kontrasepsi sederhana tanpa alat terdiri dari metode alamiah (metode kalender, suhu basal badan, lendir serviks, symthothermal), metode amenorhoe laktasi (MAL), dan coitus interuptus. Metode kontrasepsi sederhana dengan alat terdiri dari mekanik (kondom, diafragma) dan kimiawi (spermisid). Metode kontrasepsi hormonal merupakan salah satu metode kontrasepsi yang mempunyai efektifitas tinggi. Hormonal yang terkandung dalam kontrasepsi ini adalah hormon sintetik estrogen dan progesteron. Metode kontrasepsi hormonal terdiri dari pil, suntik dan implant. Alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) merupakan suatu alat yang dimasukan kedalam rahim wanita untuk tujuan kontrasepsi, AKDR terdiri dari dua jenis yaitu AKDR  non-hormonal  dan  yang  mengandung  hormonal.  Metode     kontrasepsi mantap ada 2 yaitu Metode Operatif Pria (MOP) dan Metode Operatif Wanita (MOW), sedangkan kontrasepsi darurat adalah kontrasepsi yang dipakai setelah senggama oleh wanita1.
Salah satu metode kontrasepsi hormonal dengan menggunakan suntik yang paling sering digunakan adalah DMPA. Depo Medroxyprogresterone Asetat (DMPA) berisi depo medroxy progesterone asetat berisi 150 mg dengan daya guna  3 bulan. Mekanisme kerja dari DMPA adalah menekan ovulasi, mengentalkan lendir servik, membuat endometrium kurang baik untuk implantasi dari ovum  yang telah dibuahi dan mempengaruhi kecepatan transpor ovum di dalam tuba fallopi2.
Kontrasepsi suntik DMPA memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan dari kontrasepsi DMPA ini adalah efektivitasnya tinggi dengan 0,3 kehamilan per 100 perempuan-tahun, tidak berpengaruh pada hubungan suami istri dan tidak memiliki pengaruh terhadap ASI1. Kekurangan dari kontrasepsi suntik DMPA adalah terganggunya pola haid diantaranya adalah amenorhea, menoragia dan muncul bercak (spotting), terlambatnya kembali kesuburan setelah penghentian pemakaian dan peningkatan berat badan2. Efek samping dari kandungan hormon progesteron pada sistem reproduksi adalah servisitis dan pada kondisi umum dapat menimbulkan nafsu makan meningkat, depresi, kelemahan, serta libido menurun sedangkan pada sistem    kardiovaskuler dapat menyebabkan perubahan tekanan darah3.
Perubahan tekanan darah tinggi dapat terjadi pada 5% pemakaian kontrasepsi hormonal. Tekanan darah akan meningkat secara bertahap dan bersifat tidak menetap. Jika tekanan darah tinggi menetap setelah penggunaan kontrasepsi hormonal dihentikan, maka telah terjadi perubahan permanen pada pembuluh darah akibat aterosklerosis4. Wanita yang memakai kontrasepsi hormonal selama 5 tahun atau lebih, frekuensi perubahan tekanan darah tinggi meningkat 2 sampai 3 kali daripada tidak memakai alat kontrasepsi hormonal. Risiko terjadinya tekanan darah tinggi akan meningkat dengan bertambahnya umur, lama pemakaian kontrasepsi, dan bertambahnya berat badan4.
Wanita yang memakai kontrasepsi hormonal mengalami peningkatan tekanan darah sistolik dan diastolik terutama pada 2 tahun pertama penggunaannya. Tidak pernah ditemukan terjadi peningkatan yang patologik, karena jika pemakaian kontrasepsi di hentikan, biasanya tekanan darah akan kembali normal5.
Study pendahuluan yang telah dilakukan di Desa Karang Anyar pada ibu aseptor KB suntik DMPA sebanyak 10 orang, didapatkan hasil dimana ibu yang menggunakan KB suntik DMPA dengan lama pemakaian > 2 Tahun memiliki tekanan darah yang meningkat sebanyak 6 orang, yang memiliki tekanan darah yang tetap sebanyak 1 orang dan ibu pengguna KB suntuk DMPA dengan lama pemakaian < 2 tahun memiliki tekanan darah yang tetap (tidak berubah) sebanyak 3 orang.
Berdasakan uraian diatas peneliti tertarik untuk meneliti tentang Hubungan Antara Lama Pemakaian Kontrasepsi Suntik Dmpa (Depo Medroksi Progesteron Asetat)  Dengan Perubahan Tekanan Darah Pada Ibu Aseptor KB Di Desa Karang Anyar Kecamatan Langsa Baro Kota Langsa.

METODELOGI PENELITIAN
Penelitian ini bersifat analitik dengan rancangan penelitian cross sectional dimana variabel dependen dan independi diteliti secara bersamaan, dan untuk melihat Hubungan Antara Lama Pemakaian Kontrasepsi Suntik DMPA (Depo Medroksi Progesteron Asetat)  Dengan Perubahan Tekanan Darah Pada Ibu Aseptor KB. Lokasi penelitian ini telah dilaksanakan di Desa Karang Anyar Kecamatan Langsa Baro Kota Langsa. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh ibu akseptor KB yang memakai alat kontrasepsi Suntik DMPA (Depo Medroksi Progesteron Asetat)  yang berjumlah 159 orang. Sampel penelitian ini adalah ibu akseptor KB  yang memakai alat kontrasepsi Suntik DMPA berjumlah 32 responden. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan rumus Proportional Stratified Sample. Pengambilan sampel dimasing-masing desa dilakukan secara Systematic Random Sampling dimana setiap responden diseleksi secara acak. Caranya adalah membagi jumlah atau anggota populasi dengan perkiraan jumlah sampel yang diinginkan, hasilnya adalah interval sampel. Sampel di ambil dengan membuat daftar elemen atau anggota populasi secara acak antara 1 sampai dengan banyaknya anggota populasi. Kemudian membagi dengan jumlah sampel yang diinginkan, hasilnya sebagai interval adalah X, maka yang terkena sampel adalah setiap kelipatan dari X tersebut. Sampel pertama di ambil berdasarkan lemparan dadu11.

HASIL PENELITIAN
1.        Analisis Univariat
Tabel 1    Distribusi Responden Menurut Lama Pemakaian Kontrasepsi  Suntik DMPA (Depo Medroksi Progesteron Asetat)   Pada Ibu Aseptor KB Di Desa Karang Anyar Kecamatan Langsa Baro Kota Langsa
No
Lama Pemakaian Suntik DMPA (Depo Medroksi Progesteron Asetat)

f

%
1

2
Lama

Tidak Lama
20

12
62,5

37,5

Total
32
100

Berdasarkan tabel di atas dari 32 responden mayoritas yang telah lama menggunakan kontrasepsi suntik DMPA sebanyak 20 (62,5%) responden.
Tabel  2   Distribusi Responden Menurut Perubahan Tekanan Dara Pada Ibu Aseptor KB Di Desa Karang Anyar Kecamatan Langsa Baro Kota Langsa
No
Perubahan Tekanan Darah

f

%
1

2
Ada Perubahan

Tidak Ada Perubahan
18

14
56,3

43,7

Total
32
100
Berdasarkan tabel 2 diatas dari 32 responden mayoritas yang ada perubahan tek56,3anan darah setelah menggunakan kontrasepsi suntik  sebanyak 18 (%) responden.

2.        Analisis Bivariat
Tabel 3 Distribusi Frekuensi Hubungan Antara Lama Pemakaian Kontrasepsi Suntik DMPA (Depo Medroksi Progesteron Asetat) Dengan Perubahan Tekanan Darah  Pada Ibu Aseptor KB Di Desa Karang Anyar Kecamatan Langsa Baro Kota Langsa

No
Lama Pemakaian Kontrasepsi Suntik DMPA
Perubahan TD
Jumlah
P Value
Ada Perbahan
Tidak Ada Perubahan
f
%
f
%
f
%
1
Lama
15
75
5
25
20
100


0,017
2
Tidak Lama
3
25
9
75
12
100
Jumlah
18
56,2
14
43,8
32
100
Berdasarkan tabel 3  diatas diketahui dari 20 responden  yang telah lama menggunakan kontrasepsi suntik DMPA dan ada mengalami perubahan tekanan darah sebanyak 15 (75%) responden. Setelah dilakukan uji chi-square didapatkan hasil ada hubungan antara lama pemakaian kontrasepsi suntik DMPA terhadap perubahan tekanan darah pada ibu akseptor KB dengan  nilai P value 0,017.
PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil penelitian diketahui dari 20 responden  yang telah lama menggunakan kontrasepsi suntik DMPA dan ada mengalami perubahan tekanan darah sebanyak 15 (75%) responden. Setelah dilakukan uji chi-square didapatkan hasil ada hubungan antara lama pemakaian kontrasepsi suntik DMPA terhadap perubahan tekanan darah pada ibu akseptor KB dengan  nilai P value 0,017.
Penelitian ini senada dengan teori menurut Dewi, perubahan tekanan darah tinggi dapat terjadi pada 5% pemakaian kontrasepsi hormonal. Tekanan darah akan meningkat secara bertahap dan bersifat tidak menetap. Jika tekanan darah tinggi menetap setelah penggunaan kontrasepsi hormonal dihentikan, maka telah terjadi perubahan permanen pada pembuluh darah akibat aterosklerosis. Wanita yang memakai kontrasepsi hormonal selama 5 tahun atau lebih, frekuensi perubahan tekanan darah tinggi meningkat 2 sampai 3 kali daripada tidak memakai alat kontrasepsi hormonal. Risiko terjadinya tekanan darah tinggi akan meningkat dengan bertambahnya umur, lama pemakaian kontrasepsi, dan bertambahnya berat badan4
Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ningsih dan Suesti dengan judul Hubungan Antara Lama Pemakaian Kontrasepsi Suntik DMPA (Depo Medroksi Progesteron Asetat)  Dengan Perubahan Tekanan Darah Di Puskesmas Mergangsan Yogyakarta. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif  korelasi dengan pendekatan waktu Cross Sectional. Metode pengambilan sampel dengan teknik purposive sampling sebanyak 91 responden. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji Kendall Tau (τ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar akseptor KB suntik DMPA di Puskesmas Mergangsan memakai KB suntik DMPA dengan kategori lama atau >2 tahun 57 akseptor (62,6%), dan sebagian.besar akseptor mengalami perubahan tekanan darah dengan kategori naik 57 akseptor (62,6%). Hasil uji korelasi Kendall Tau diperoleh nilai p value 0,01, maka ada hubungan yang signifikan antara lama pemakaian kontrasepsi suntik DMPA  (Depo Medroksi Progesteron Asetat) dengan perubahan tekanan darah di Puskesmas Mergangsan.12
Penelitian ini juga sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Tandean, Rina dan Rivelino dengan judul Hubungan Penggunaan Alat Kontrasepsi Suntik DMPA (Depo Medroksi Progesteron Asetat) dengan Tekanan Darah Pada Ibu Di Puskesmas Ranotana Weru. Desain penelitian yang digunakan yaitu deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional, dengan jumlah sampel sebanyak 98 responden. Analisis yang digunakan yaitu uji statistik chi-square. Hasil penelitian didapat ada hubungan yang signifikan antara penggunaan alat kontrasepsi suntik dengan tekanan darah dengan nilai P value = 0,021.13
Menurut asumsi peneliti penggunaan kontrasepsi Suntik DMPA (Depo Medroksi Progesteron Asetat)  yang terlalu lama akan meningkatkan tekanan darah pada ibu akseptor. Tekanan darah dapat terjadi pengaruh hormon progesteron yang terkandung dalam kontrasepsi suntik tersebut. Akan tetapi ibu akseptor yang memakai kontrasepsi ini tidak perlu khawatir akan kenaikan tekanan darah yang terjadi pada ibu karena jika penggunaan kontrasepsi suntik DMPA (Depo Medroksi Progesteron Asetat) dihentikan maka tekanan darah ibu akan menurun. Maka sebaiknya ibu tidak menggunakan kontrasepsi suntik DMPA (Depo Medroksi Progesteron Asetat) dalam jangka waktu yang lama.

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan hasil penelitian, dapat diambil beberapa kesimpulan Hubungan Antara Lama Pemakaian Kontrasepsi Suntik DMPA (Depo Medroksi Progesteron Asetat)  Dengan Perubahan Tekanan Darah  Pada Ibu Aseptor KB Di Desa Karang Anyar Kecamatan Langsa Baro Kota Langsa. Berdasarkan analisis univariat terhadap 32 responden mayoritas yang telah lama menggunakan kontrasepsi suntik DMPA sebanyak 20 (62,5%) responden. Hasil analisis univariat terhadap 32 responden mayoritas yang ada perubahan tek56,3anan darah setelah menggunakan kontrasepsi suntik  sebanyak 18 (%) responden. Hasil analisis bivariat dengan menggunakan uji chi-square disimpulkan ada hubungan antara lama pemakaian kontrasepsi suntik DMPA terhadap perubahan tekanan darah pada ibu akseptor KB dengan  nilai P value 0,017.   
SARAN
Berdasarkan analisis dan pembahasan hasil penelitian, disarankan untuk : Diharapkan sebagai bahan rujukan untuk pengembangan ilmu penegtahuan tentang alat kontrasepsi khususnya Kontrasepsi Suntik DMPA (Depo Medroksi Progesteron Asetat). Diharapkan sebagai bahan masukan bagi pelayanan kesehatan untuk pelayanan yang lebih optimal.

DAFTAR PUSTAKA

1 Saifuddin, A.B. 2006. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi Ed. 2,    Cet 2. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
2 Handayani, S. 2010. Buku Ajar Pelayanan Keluarga Berencana. Yogyakarta : Pustaka Rihama
3  Varney. 2007. Buju ajar Asuhan Kebidanan Edisi 4. Jakarta. EGC
4 Dewi, S. dan Famila, D. 2010. Hidup Bahagia Dengan Hipertensi. Yogyakarta : A Plus Books
5 Baziard, A. 2002. Kontrasepsi Hormonal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirihardjo
6 Rekomendasi Praktik Pilihan Untuk Penngunaan Kontrasepsi Edisi 2,2009

7 Hartanto, H. 2003. Keluarga Berencana dan Kontrasepsi. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan
8 Subekti, P. 2004. Kontrasepsi dan Penggunaanya. Yogyakarta : Cahaya Tugu
9 Rahardja, Kirana, 2007, Obat-obat Penting ed.6, 717, PT. Elex Media Computa, Jakarta
10 Alimum Aziz. 2008. Keterampilan Dasar Pratik Kebidanan. Salemba Jakarta
11 Notoatmodjo, S. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.
12 Ningsih, N.F 2012dengan judul Hubungan Antara Lama Pemakaian Kontrasepsi Suntik DMPA (Depo Medroksi Progesteron Asetat)  Dengan Perubahan Tekanan Darah Di Puskesmas Mergangsan Yogyakarta
13  Tendean, B. Kundre, R. Hamel, R. 2017. Hubungan penggunaan alat kontrasepsi suntik  Depomedroksi Progesteron Asetat (DMPA)  dengan Tekanan Darah pada Ibu di  Puskesmas Ranotana Weru. e-journal Keperawatan (e-Kp) Vol.5 No 1.